Iklan

Kunjungan Silaturahmi ke Puskesmas Ajangale Disambut Kapus drg. Hj. Kurnia; Sinergi Pelayanan Kesehatan di Lapangan

Senin, 10 Agustus 2026, Agustus 10, 2026 WIB Last Updated 2026-08-10T06:00:11Z
BONE | Tinta merah.my.id — Kunjungan silaturahmi insan pers ke lingkungan Puskesmas Ajangale disambut baik oleh Kepala Puskesmas Ajangale, drg. Hj. Kurnia, pada Senin (10/8/2026). Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab dan terbuka, seolah membuka lembaran baru hubungan antara pelayanan kesehatan garda terdepan dan pihak yang membawa suara masyarakat.
 
Namun, silaturahmi semestinya tidak berhenti sebagai pertemuan sopan santun, jabat tangan, dan foto bersama. Di balik pertemuan itu tersimpan kepentingan publik yang jauh lebih besar: apakah keterbukaan ini akan menjadi jembatan informasi, atau sekadar menjadi catatan di buku kunjungan?
 
 
Silaturahmi Bukan Garis Akhir
 
Puskesmas adalah wajah terdekat pelayanan kesehatan negara bagi masyarakat. Di sini warga datang membawa keluhan, harapan, dan kebutuhan mendesak. Karena itu, kualitas pelayanan tidak cukup diukur dari rapi tidaknya ruangan atau lengkap tidaknya laporan administrasi. Ukuran sesungguhnya adalah apa yang dirasakan warga saat berhadapan langsung dengan pelayanan.
 
Apakah pelayanan cepat, ramah, dan informatif? Apakah prosedur jelas dan biaya transparan? Apakah keluhan didengar dan ditindaklanjuti? Atau justru warga pulang dengan kebingungan dan ketidakpastian?
 
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan tuduhan. Itu adalah hak masyarakat untuk mengetahui. Dan di sinilah peran pers menjadi penting: menjadi jembatan sekaligus pengingat bahwa pelayanan publik harus selalu terbuka untuk diawasi dan dievaluasi.
 
Komunikasi Terbuka, Kunci Kepercayaan
 
Kepala Puskesmas Ajangale, drg. Hj. Kurnia, menyambut baik kehadiran insan pers. Sikap terbuka ini patut diapresiasi sebagai sinyal bahwa transparansi pelayanan menjadi perhatian. Namun, sambutan hangat di ruang pertemuan belum tentu tercermin di ruang pelayanan.
 
Yang menjadi pertanyaan publik: apakah keterbukaan ini akan berlanjut ketika muncul persoalan? Apakah ketika ada keluhan warga, informasi akan tetap disampaikan secara terbuka dan jujur? Apakah ketika ada hal yang belum berjalan baik, akan diakui dan diperbaiki, atau justru ditutupi?
 
Komunikasi yang sehat bukan berarti selalu sepakat. Justru komunikasi yang dewasa adalah ketika pihak yang melayani bersedia mendengar kritik, dan pihak yang mengawasi tetap menyampaikan informasi secara berimbang, berdasarkan fakta, tanpa tendensi.
 
Masyarakat Menuntut Bukti Nyata, Bukan Sekadar Narasi
 
Masyarakat pada dasarnya tidak menuntut hal yang mustahil. Mereka hanya ingin:
 
- Datang dilayani dengan baik
- Memperoleh informasi yang jelas
- Mengetahui prosedur dan ketentuan
- Mendapat respons ketika menyampaikan keluhan
 
Jika ini terpenuhi, kepercayaan tumbuh dengan sendirinya. Jika tidak, maka sebaik apa pun narasi yang disampaikan di ruang pertemuan, tidak akan mampu menggantikan kenyataan yang dirasakan warga di lapangan.
 
Publik tidak hidup dari janji. Publik hidup dari pelayanan nyata.
 
Pers Bukan Musuh, Melainkan Mitra Demokrasi
 
Kehadatan pers di tengah masyarakat bukan untuk mencari-cari kesalahan. Peran jurnalistik adalah mencari fakta, menyampaikan informasi, dan mengingatkan agar pelayanan tetap berada di jalurnya. Ketika pers menyampaikan temuan atau pertanyaan, itu bukan serangan terhadap institusi. Itu adalah pengingat agar pelayanan tetap berpegang pada prinsip: ada untuk rakyat.
 
Karena itu, sikap terbuka dari Kepala Puskesmas Ajangale patut diharapkan menjadi langkah awal yang berkelanjutan. Bukan hanya ketika bertemu di ruang pimpinan, melainkan setiap saat—termasuk ketika ada persoalan yang sedang hangat dibicarakan warga.
 
 Ujian Sesungguhnya di Lapangan
 
Silaturahmi hari ini menjadi awal yang baik. Namun, ujian sesungguhnya belum terjadi.
 
Ujian itu bukan di ruang pertemuan, melainkan di ruang pelayanan. Bukan saat suasana baik-baik saja, melainkan saat muncul persoalan. Bukan saat semua berjalan lancar, melainkan saat ada keluhan yang harus diselesaikan.
 
Masyarakat akan menilai Puskesmas Ajangale bukan dari sambutan hangat di ruang pimpinan, melainkan dari pelayanan yang mereka terima saat datang membawa kebutuhan kesehatan mereka.
 
Jika pelayanan membaik, masyarakat akan merasakannya. Jika informasi terbuka, masyarakat akan mengetahuinya. Jika keluhan ditangani dengan serius, masyarakat akan mempercayainya. Dan jika masih ada kekurangan, masyarakat juga berhak menyampaikannya—dengan harapan agar diperbaiki.
 
 Penutup: Pelayanan adalah Pembuktian
 
Pada akhirnya, silaturahmi hanyalah pintu masuk. Yang terpenting adalah apa yang terjadi setelah pintu itu terbuka.
 
Apakah pelayanan semakin baik? Apakah informasi semakin terbuka? Apakah keluhan warga semakin diperhatikan? Dan apakah warga merasa dilayani, bukan sekadar diproses?
 
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menjadi ukuran keberhasilan. Bukan pidato, bukan janji, bukan pula kesan saat pertemuan. Melainkan apa yang dirasakan warga secara nyata.
 
Karena itu, sambutan terbuka dari Kepala Puskesmas Ajangale drg. Hj. Kurnia patut disambut harapan. Namun harapan itu harus dibuktikan dengan langkah nyata.
 
Liputan:Rudiandi.CFLE
Komentar

Tampilkan

  • Kunjungan Silaturahmi ke Puskesmas Ajangale Disambut Kapus drg. Hj. Kurnia; Sinergi Pelayanan Kesehatan di Lapangan
  • 0

Terkini

Iklan