Iklan

Komisi IX DPR RI Tinjau RSUD Komodo, Wagub NTT Dorong Percepatan Operasional Cath Lab demi Selamatkan Pasien Serangan Jantung

Sabtu, 25 Juli 2026, Juli 25, 2026 WIB Last Updated 2026-07-25T01:44:55Z

Manggarai BaratTintaMerah. My.Id – Upaya memperkuat layanan kesehatan rujukan di kawasan pariwisata super prioritas Labuan Bajo menjadi sorotan dalam kunjungan kerja spesifik Komisi IX DPR RI ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Jumat (24/7/2026). Salah satu isu utama yang dibahas adalah percepatan operasional fasilitas Catheterization Laboratory (Cath Lab) untuk penanganan pasien penyakit jantung, khususnya kasus serangan jantung akut.

Dalam kunjungan tersebut, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Johni Asadoma mendampingi rombongan Komisi IX DPR RI yang juga meninjau UPTD Balai Latihan Kerja (BLK) Manggarai Barat.

Menurut Johni, RSUD Komodo memiliki posisi strategis karena tidak hanya melayani masyarakat Manggarai Barat, tetapi juga menjadi rumah sakit rujukan bagi masyarakat di wilayah sekitarnya serta mendukung pelayanan kesehatan bagi wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo.

"RSUD Komodo memiliki peran strategis, bukan hanya melayani masyarakat Manggarai Barat, tetapi juga menjadi penopang layanan kegawatdaruratan bagi wisatawan di Labuan Bajo. Kami terus memperkuat fasilitas kesehatan ini, namun masih membutuhkan dukungan Pemerintah Pusat, terutama dalam pemenuhan dokter spesialis dan alat kesehatan strategis," ujar Johni.

Soroti Pentingnya Golden Hour Pasien Jantung

Kunjungan Komisi IX DPR RI difokuskan pada evaluasi kesiapan pelayanan kesehatan darurat serta pembahasan hambatan operasional Cath Lab yang dinilai sangat penting bagi pasien penyakit jantung.

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene, anggota Komisi IX DPR RI, Kamal, Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi, Wakil Bupati Yulianus Weng, Direktur RSUD Komodo, perwakilan BPJS Kesehatan, serta tenaga medis spesialis jantung.

Dalam diskusi, Anggota Komisi IX DPR RI Kamal mengingatkan bahwa penanganan pasien serangan jantung harus mengacu pada prinsip golden hour, yakni periode emas sekitar 120 menit yang sangat menentukan keselamatan pasien.

Menurutnya, pelayanan medis tidak boleh tertunda hanya karena persoalan administratif.

"Sangat penting bagi kita semua memahami kondisi riil operasional Cath Lab. Pasien serangan jantung membutuhkan tindakan cepat dalam golden hour 120 menit. Tidak boleh ada pembiaran pasien terhambat mendapatkan tindakan hanya karena urusan administrasi," tegas Kamal.

Pemkab Manggarai Barat Nyatakan Siap Menanggung Pembiayaan Darurat

Menanggapi berbagai kendala yang disampaikan dalam forum tersebut, Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi meminta jajaran RSUD Komodo segera mengoperasikan kembali layanan darurat Cath Lab.

Ia juga menyatakan komitmen Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat untuk menjamin pembiayaan pasien gawat darurat yang belum terakomodasi dalam skema BPJS Kesehatan.

Menurut Endi, kebijakan tersebut tidak hanya berlaku bagi warga ber-KTP Manggarai Barat, tetapi juga bagi pasien rujukan dari kabupaten lain di Nusa Tenggara Timur yang membutuhkan tindakan medis segera.

"Tidak hanya kamu catat, kamu laksanakan. Jika ada pasien serangan jantung, kita tidak hanya melayani masyarakat ber-KTP Manggarai Barat, tetapi juga masyarakat dari kabupaten tetangga. Jika membutuhkan pelayanan darurat, kita layani dan Pemda yang mengurus pembiayaannya," kata Endi.

Pernyataan tersebut menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah untuk memastikan pasien gawat darurat memperoleh pelayanan medis tanpa tertunda persoalan administratif.

BPJS Kesehatan Siap Percepat Proses Kredensialing

Dalam pertemuan itu, BPJS Kesehatan melalui perwakilannya menyampaikan kesiapan untuk mempercepat proses kredensialing layanan kardiointervensi setelah dokumen resmi diajukan oleh manajemen RSUD Komodo.

Menurut pihak BPJS, percepatan tersebut akan dilakukan melalui pendekatan yang lebih fleksibel agar kerja sama pelayanan Cath Lab tidak harus menunggu jadwal kredensialing reguler.

Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene juga meminta BPJS Kesehatan tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi turut aktif mendampingi rumah sakit dalam memenuhi berbagai persyaratan pelayanan.

"Mari kita saling menopang. Jangan lagi ada istilah kelalaian pihak rumah sakit. BPJS perlu hadir membimbing SDM rumah sakit serta membangun komunikasi yang aktif agar pelayanan dan administrasi berjalan lancar," ujar Felly.

Apresiasi bagi Tenaga Medis di Wilayah 3T

Selain membahas aspek kebijakan, Komisi IX DPR RI memberikan apresiasi kepada tenaga medis RSUD Komodo, termasuk dokter spesialis jantung dr. Rara, yang dinilai tetap memberikan pelayanan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) sekaligus kawasan destinasi wisata super prioritas nasional.

Keberadaan tenaga medis spesialis di daerah dinilai menjadi faktor penting dalam memperluas akses layanan kesehatan jantung bagi masyarakat NTT.

Dorong Layanan Darurat Tanpa Hambatan Administrasi

Dari hasil kunjungan tersebut, sejumlah langkah strategis disepakati untuk memperkuat pelayanan kesehatan jantung di RSUD Komodo. Salah satu poin yang mengemuka ialah dorongan agar pasien dengan kondisi darurat, khususnya penderita ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI), dapat segera memperoleh tindakan menggunakan fasilitas Cath Lab tanpa terhambat prosedur administratif.

Realisasi berbagai komitmen tersebut selanjutnya akan bergantung pada tindak lanjut pemerintah daerah, manajemen rumah sakit, BPJS Kesehatan, serta dukungan pemerintah pusat dalam penyediaan tenaga spesialis dan sarana kesehatan.

Melalui sinergi tersebut, pelayanan kesehatan jantung di Manggarai Barat diharapkan semakin cepat, efektif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat maupun wisatawan yang berada di kawasan Labuan Bajo.

Penulis: Bergita Abi
Komentar

Tampilkan

  • Komisi IX DPR RI Tinjau RSUD Komodo, Wagub NTT Dorong Percepatan Operasional Cath Lab demi Selamatkan Pasien Serangan Jantung
  • 0

Terkini

Iklan