BONE|TintaMerah.my.id – Di tengah semakin maraknya penyelenggaraan festival budaya di berbagai daerah, pelibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi tantangan. Tidak sedikit kegiatan berskala besar yang menghadirkan keramaian, tetapi manfaat ekonominya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat sekitar. Berangkat dari kondisi tersebut, langkah panitia Gau Maraja 2026 yang melibatkan pelaku UMKM lokal dalam rangkaian kegiatan praacara mendapat apresiasi dari berbagai pihak.
Apresiasi itu disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) APKLI Perjuangan UMKM Provinsi Sulawesi Selatan, Iwan Hammer, saat menghadiri konferensi pers Gau Maraja yang digelar di Mess Guru-Guru, Jalan Makmur, Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Rabu (22/7/2026).
Konferensi pers tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Bone Hj. Andi Tenriawaru mewakili Bupati Bone, Kepala Dinas Kebudayaan Hj. Andi Murni Arsal, Kepala Dinas Perindustrian H. Andi Promal Pawi, jajaran panitia pelaksana, tokoh budaya, serta puluhan wartawan dari media cetak, elektronik, dan media daring.
Pemilihan Mess Guru-Guru sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna tersendiri. Bangunan yang berdiri sejak masa lampau itu telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya pada 2023 sehingga menjadi simbol keterpaduan antara pelestarian sejarah dan pengembangan kegiatan budaya di Kabupaten Bone.
Di sela-sela kegiatan, panitia tidak hanya menyajikan konsumsi melalui mekanisme konvensional. Mereka juga melibatkan pedagang batagor gerobak dan kopi gerobak keliling sebagai bagian dari pelayanan bagi tamu undangan. Langkah sederhana tersebut dinilai memberi ruang bagi pelaku UMKM untuk ikut menikmati manfaat ekonomi dari penyelenggaraan sebuah kegiatan.
Menurut Iwan Hammer, pemberdayaan UMKM tidak selalu harus diwujudkan melalui program besar atau bantuan modal. Memberikan kesempatan kepada pedagang kecil untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan pemerintah maupun masyarakat juga merupakan bentuk keberpihakan yang memiliki dampak langsung terhadap ekonomi rakyat.
«"Ini patut diapresiasi. Panitia tidak hanya menyiapkan acara, tetapi juga memberdayakan pelaku UKM, UMKM, dan ekonomi kreatif. Kehadiran pedagang batagor gerobak maupun kopi keliling menunjukkan bahwa event budaya juga bisa menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat," ujar Iwan.»
Ia berharap pola seperti ini menjadi standar dalam setiap penyelenggaraan kegiatan, baik oleh pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, maupun pihak swasta. Menurutnya, semakin banyak ruang yang diberikan kepada UMKM lokal, semakin besar pula perputaran ekonomi yang terjadi di daerah.
Iwan menambahkan, pelaku UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional yang selama ini terbukti mampu bertahan dalam berbagai situasi, termasuk ketika menghadapi tekanan ekonomi. Karena itu, penyelenggara kegiatan seharusnya tidak hanya mengejar kesuksesan acara dari sisi seremonial, tetapi juga memastikan adanya manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Sementara itu, Gau Maraja 2026 dijadwalkan berlangsung pada September 2026 di Kabupaten Bone. Event budaya tersebut sebelumnya telah digelar di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, antara lain Kota Makassar, Kabupaten Soppeng, Barru, dan Maros. Kehadirannya di Bone diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian budaya lokal sekaligus menggerakkan sektor ekonomi kreatif, pariwisata, kuliner, dan UMKM.
Pelibatan pelaku usaha kecil sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan kegiatan dinilai menjadi contoh bahwa sebuah festival budaya tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekspresi seni dan tradisi, tetapi juga dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ketika budaya dan ekonomi berjalan beriringan, manfaat penyelenggaraan sebuah event akan lebih luas dan dirasakan secara langsung oleh warga yang menjadi bagian dari ekosistem kegiatan tersebut.Tim