SOPPENG-TintaMerah.My.Id – Sebuah ironi besar kini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat Kabupaten Soppeng. Di satu sisi, beredar informasi yang menyebutkan pertumbuhan ekonomi daerah mencapai angka fantastis, 9,5 persen. Namun di sisi lain, realitas di lapangan justru memperlihatkan gambaran yang sangat kontras: pasar tradisional terasa sepi, daya beli melemah, dan petani masih terjepit biaya produksi tinggi.
Angka pertumbuhan yang mendekati dua digit itu seharusnya menjadi kabar gembira. Namun bagi rakyat kecil, hal tersebut justru memunculkan tanda tanya besar yang sulit dijawab dengan logika sederhana: Jika ekonomi tumbuh secepat itu, mengapa kehidupan kami masih terasa berat?
Pasar tradisional selama ini dikenal sebagai barometer denyut nadi ekonomi rakyat. Di sinilah perputaran uang yang paling nyata dirasakan.
Namun belakangan ini, keluhan pedagang terdengar seragam. Mereka mengaku omzet menurun drastis. Barang dagangan yang biasanya ludes terjual kini seringkali masih tersisa menumpuk saat pasar tutup. Transaksi terasa lambat, dan masyarakat tampak sangat hemat dalam membelanjakan uangnya.
"Dulu ramai, sekarang sepi. Kalau ekonomi naik 9,5 persen, mestinya pasar ini penuh orang dan uang berputar kencang. Kenyataannya justru sebaliknya," keluh salah seorang pedagang.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan kritis: Jika pertumbuhan ekonomi benar terjadi, mengapa sektor yang paling dekat dengan rakyat justru menunjukkan gejala perlambatan?
Kesenjangan ini semakin terasa jelas jika melihat kondisi sektor pertanian, yang notabene adalah tulang punggung ekonomi Soppeng.
Di lapangan, petani bukan hanya dihadapkan pada masalah kelangkaan pupuk bersubsidi yang berulang, tetapi juga terjepit oleh fluktuasi harga hasil panen yang tidak menentu.
Biaya produksi terus membumbung tinggi, namun harga jual komoditas seringkali tidak sebanding. Akibatnya, margin keuntungan petani semakin tergerus.
"Kalau pupuk susah didapat dan mahal, bagaimana mau panen besar? Kalau panen pun harganya murah, dari mana datangnya pertumbuhan ekonomi itu?" tanya seorang petani dengan nada kecewa.
Logika ekonomi rakyat sangat sederhana: Jika yang menopang ekonomi daerah saja masih kesulitan, maka klaim pertumbuhan tinggi menjadi sesuatu yang sulit dicerna akal sehat.
Para pemerhati ekonomi menegaskan, secara teori memang benar bahwa angka pertumbuhan ekonomi (PDRB) dihitung dari nilai produksi barang dan jasa. Namun, angka makro tersebut tidak selalu menjamin pemerataan kesejahteraan.
Ada kemungkinan, pertumbuhan tinggi tersebut hanya ditopang oleh satu atau dua sektor besar tertentu—misalnya konstruksi atau investasi modal besar—yang manfaatnya belum tentu langsung "netes" ke kantong pedagang pasar atau petani kecil.
Pertumbuhan ekonomi itu seperti bangunan yang tinggi, tapi belum tentu lantainya bisa diinjak oleh semua orang. Masyarakat berhak tahu: sektor mana yang tumbuh? Siapa yang menikmati uangnya?" ungkap seorang pengamat.
Karena itulah, publik tidak cukup hanya disuguhi angka. Mereka butuh penjelasan rinci:
✅ Dari sektor mana kontribusi terbesar berasal?
✅ Apakah angka itu riil atau hanya proyeksi?
✅ Bagaimana data pendukung lainnya seperti angka kemiskinan dan pengangguran?
Di tengah keraguan ini, masyarakat mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar namun menyakitkan:
- Apakah pendapatan petani benar-benar meningkat?
- Apakah pedagang pasar mendapatkan keuntungan lebih baik?
- Apakah daya beli keluarga membaik?
Jika jawabannya belum, maka ada kemungkinan terjadi jarak yang lebar antara data statistik dengan realitas kehidupan.
Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya bangga dengan capaian angka, tetapi juga jujur melihat kondisi di bawah. Transparansi dan dialog terbuka menjadi kunci untuk menjawab keraguan ini agar tidak muncul persepsi bahwa pertumbuhan ekonomi hanyalah sekadar narasi di atas kertas yang sulit dirasakan oleh rakyat.
"Bagi kami, ukuran ekonomi yang bagus bukan angka di laporan, tapi saat pasar ramai, panen bagus harga mahal, dan kebutuhan keluarga bisa terpenuhi dengan layak," demikian suara hati masyarakat Soppeng.
@ Red