SOPPENG-TintaMerah.my.id – Ketahanan pangan terus menjadi salah satu prioritas utama pembangunan nasional. Berbagai program strategis terus digulirkan, mulai dari upaya peningkatan produksi, penguatan cadangan pangan, hingga target swasembada sebagai fondasi ketahanan negara.
Di berbagai kesempatan, capaian dan target ini terus disampaikan kepada publik. Namun, di balik narasi kebijakan yang gencar digaungkan tersebut, realitas di lapangan memperlihatkan bahwa sebagian petani masih bergulat dengan persoalan mendasar yang belum sepenuhnya teratasi.
Fluktuasi harga hasil panen yang tak menentu, tekanan biaya produksi yang terus meningkat, keterbatasan modal, hingga kerumitan akses terhadap pupuk bersubsidi, masih menjadi tantangan nyata yang memengaruhi keberlanjutan usaha tani.
Kondisi ini berdampak langsung pada kesejahteraan. Tidak sedikit petani yang mengaku keuntungan yang didapat semakin tipis, bahkan seringkali hanya cukup untuk menutupi modal yang telah dikeluarkan.
Petani adalah ujung tombak yang menopang ketahanan pangan nasional. Karena itu, keberhasilan sebuah kebijakan tidak cukup hanya diukur dari angka produksi atau luas tanam semata. Ukuran sesungguhnya terletak pada sejauh mana kesejahteraan mereka mengalami perbaikan secara nyata,” ujar Founder DPP LSM GARDA 08.
Menurutnya, masukan yang disampaikan sama sekali bukan bermaksud mengurangi apresiasi terhadap upaya pemerintah. Sebaliknya, hal itu merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial agar kebijakan yang berjalan dapat terus disempurnakan dan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.
Harga Panen: Antara Risiko dan Ketidakpastian
Salah satu sorotan utama GARDA 08 adalah masalah stabilitas harga komoditas.
Seringkali terjadi fenomena pahit: saat musim panen tiba dan produksi melimpah, harga di tingkat petani justru mengalami penurunan. Akibatnya, pendapatan yang diterima tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan.
Di sisi lain, harga input produksi seperti benih, pestisida, dan upah tenaga kerja terus mengalami kenaikan.
Petani sudah menghadapi risiko besar dari cuaca dan hama. Sangat tidak adil jika di akhir masa tanam, mereka juga harus menghadapi ketidakpastian harga yang merugikan. Stabilitas harga adalah kunci agar mereka bisa hidup layak,” tegasnya.
Meski diakui bahwa harga pasar dipengaruhi oleh banyak faktor dan bisa berbeda antarwilayah, perlindungan terhadap pendapatan petani dinilai harus menjadi perhatian serius.
Distribusi Pupuk: Harapan dan Realitas
Selain persoalan harga, distribusi pupuk bersubsidi juga masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Bagi petani, pupuk adalah nyawa usaha tani. Ketersediaan yang tepat waktu dan harga yang sesuai aturan adalah syarat mutlak keberhasilan panen.
Namun, keluhan mengenai keterlambatan, kelangkaan stok, hingga mekanisme penyaluran yang belum sepenuhnya lancar, masih sering terdengar.
Pupuk bersubsidi adalah hak petani. Sistem distribusinya harus terus dievaluasi dan diperbaiki agar benar-benar tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran sampai ke tangan yang berhak,” tambahnya.
GARDA 08 menekankan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik dan kendala yang berbeda, sehingga solusi pun harus adaptif dengan kondisi riil di lapangan, bukan hanya seragam di atas kertas.
Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Satu Kesatuan
LSM ini berpandangan bahwa keberhasilan ketahanan pangan tidak bisa dipisahkan dari kemampuan negara dalam melindungi pelaku utamanya.
Produksi yang tinggi akan sulit dipertahankan jika petani terus-menerus berada dalam tekanan ekonomi. Sektor pertanian harus menjadi ladang yang menjanjikan masa depan, bukan tempat yang penuh keraguan.
“Ketahanan pangan akan semakin kokoh apabila petaninya juga hidup sejahtera. Produksi besar harus diimbangi pendapatan yang layak, agar sektor ini tetap menarik bagi generasi penerus,” ujarnya.
Evaluasi untuk Perbaikan
Atas dasar itu, GARDA 08 berharap pemerintah pusat maupun daerah tidak berpuas diri. Evaluasi menyeluruh perlu terus dilakukan terhadap mekanisme pasar, stabilisasi harga, hingga sistem penyaluran sarana produksi.
“Evaluasi adalah keniscayaan. Jika program sudah berjalan baik, keterbukaan akan memperkuat kepercayaan. Jika masih ada yang perlu dibenahi, maka perbaikan adalah bagian dari tata kelola yang baik,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah terus menjalankan berbagai program di sektor pertanian. Namun harapan besar kini tertuju pada adanya kebijakan yang lebih adaptif dan solutif demi melindungi nasib para petani.
Redaksi senantiasa membuka ruang hak jawab dan tanggapan dari seluruh pihak terkait guna menjaga prinsip pemberitaan yang akurat, berimbang, dan objektif.
@Red