KONAWE|Tintamerah.my.id — Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Onembute, Kabupaten Konawe, kembali menjadi sorotan tajam. Kali ini, perhatian publik mengarah pada dugaan adanya perubahan jenis menu yang disajikan kepada peserta didik, yang dinilai berbeda dengan konsep menu bergizi seimbang yang selama ini disosialisasikan pemerintah sebagai landasan utama program.
Sorotan ini disampaikan secara resmi oleh Aktivis Antikorupsi sekaligus pengawas pelaksanaan MBG, Iwan Hammer, setelah menerima informasi serta dokumentasi dari sejumlah orang tua dan warga di wilayah tersebut. Dalam laporan yang diterima, disebutkan bahwa salah satu menu yang disalurkan berupa hamburger dengan isian irisan tomat, timun, dan daun selada—jenis sajian yang belum pernah tercantum dalam pedoman umum menu yang dipublikasikan sebelumnya.
“Program MBG adalah program strategis nasional yang dibiayai sepenuhnya oleh anggaran negara dengan tujuan mulia: memperbaiki status gizi anak, mencegah stunting, dan mencukupi kebutuhan nutrisi harian. Karena itu, setiap langkah pelaksanaannya harus terbuka, dapat dipertanggungjawabkan, dan tidak menyimpang dari standar yang telah ditetapkan,” ujar Iwan kepada awak media, Selasa (28/7/2026).
Ia menegaskan, kritik dan sorotan ini sama sekali bukan bermaksud menghambat pelaksanaan program, melainkan bentuk pengawasan publik yang bertujuan memastikan sasaran program benar-benar tercapai. “Kami ingin program ini berhasil. Namun keberhasilan tidak bisa hanya diukur dari makanan tersalurkan, melainkan apakah isinya benar-benar bergizi dan sesuai kebutuhan anak,” tambahnya.
Dasar Pertanyaan yang Belum Terjawab
Merespons dugaan perubahan menu tersebut, Iwan mendesak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Onembute serta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memberikan penjelasan secara terbuka dan rinci kepada publik. Beberapa hal yang diminta untuk dijelaskan antara lain:
- Apa alasan utama perubahan atau penyesuaian menu menjadi hamburger tersebut?
- Apakah perubahan ini telah melalui kajian dan persetujuan tenaga ahli gizi?
- Apakah menu tersebut telah memenuhi standar kecukupan kalori, protein, serta zat gizi lain yang ditetapkan BGN?
- Apakah terdapat dokumen perubahan siklus menu yang sah dan dapat diakses oleh masyarakat?
Menurutnya, transparansi atas hal-hal tersebut sangat krusial untuk menjaga kepercayaan publik. “Jika memang ada penyesuaian yang diperlukan, jelaskan dasar pertimbangannya secara terbuka. Menutup informasi justru memunculkan keraguan apakah program ini dikelola dengan serius dan akuntabel,” katanya.
Iwan juga meminta BGN melakukan verifikasi dan evaluasi menyeluruh apabila ditemukan ketidaksesuaian antara rencana menu, daftar bahan yang dianggarkan, dan makanan yang benar-benar diterima siswa di lapangan. Selain itu, SPPG diminta mempublikasikan secara berkala siklus menu mingguan, rincian komposisi gizi, serta mekanisme pengawasan kualitas makanan yang diterapkan.
Harapan Orang Tua: Kepastian Standar Gizi
Sejumlah orang tua siswa yang ditemui redaksi menyatakan tidak mempermasalahkan variasi menu, selama tetap berlandaskan kebutuhan gizi anak. “Kami tidak keberatan menunya diubah, asalkan tetap sesuai standar. Tapi kami butuh kepastian: apakah hamburger ini dihitung sebagai lauk utama atau sekadar camilan? Apakah gizinya sudah cukup untuk tumbuh kembang anak kami?” ujar salah satu orang tua yang meminta namanya tidak dipublikasikan.Tim/Red