Iklan

Pertumbuhan ekonomi 9,39persen di pertanyakanNilai Jual di Pasar Rakyat Justru Menurun: Angka Indah di Atas Kertas, Realita Pahit di Lapangan

Jumat, 12 Juni 2026, Juni 12, 2026 WIB Last Updated 2026-06-12T15:02:15Z

SOPPENG-Tintamerah.My.Id– Sebuah ironi kembali menjadi sorotan tajam di Kabupaten Soppeng. Di tengah gencarnya narasi mengenai capaian pertumbuhan ekonomi yang disebut mencapai angka 9,39 persen, realitas yang dirasakan oleh masyarakat di akar rumput justru memperlihatkan gambaran yang sangat kontras dan memprihatinkan.
 
Bagi sebagian besar pelaku usaha kecil, pedagang pasar rakyat, hingga petani, angka pertumbuhan yang mendekati dua digit tersebut seolah menjadi hal yang asing dan sulit dirasakan manfaatnya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Hingga saat ini, keluhan mengenai lesunya aktivitas ekonomi dan melemahnya daya beli masih terdengar di mana-mana.

Pasar rakyat, yang selama ini dikenal sebagai urat nadi ekonomi masyarakat, kini menjadi saksi bisu akan adanya kesenjangan yang lebar antara data makro dengan kondisi riil.
 
Di sejumlah lokasi pasar, aktivitas jual beli dilaporkan masih berjalan lambat. Daya beli masyarakat dinilai belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sementara itu, tekanan terhadap biaya hidup dan biaya produksi terus meningkat, membuat posisi pelaku usaha semakin terjepit.
 
Sejumlah pedagang mengaku bahwa omzet penjualan mereka cenderung stagnan, bahkan mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Uang yang beredar di masyarakat terasa lebih ketat, dan masyarakat kini sangat berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
 
"Kalau ekonomi benar tumbuh setinggi itu, seharusnya pasar ini ramai dan transaksi berjalan kencang. Tapi kenyataannya? Penjualan menurun drastis, pembeli datang tapi hanya melihat-lihat atau membeli seperlunya. Kami tidak merasakan adanya pertumbuhan ekonomi yang dimaksud," ungkap salah seorang pedagang dengan nada kecewa.
 
Kondisi ini diperparah dengan ketidakpastian harga hasil pertanian. Fluktuasi harga yang sering kali merugikan petani membuat pendapatan masyarakat tidak menentu, yang pada akhirnya berdampak langsung pada melemahnya perputaran uang di pasar-pasar tradisional.
 
Para pengamat ekonomi menegaskan, fenomena ini sebenarnya memiliki penjelasan secara teori, namun tetap menjadi persoalan serius dalam praktiknya.
 
Angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa saja terjadi karena didorong oleh perkembangan pesat pada satu atau dua sektor tertentu, misalnya sektor besar, konstruksi, atau investasi modal besar. Namun, belum tentu manfaat tersebut menetes ke bawah dan dinikmati secara merata oleh sektor perdagangan kecil, pertanian rakyat, maupun usaha mikro yang jumlahnya paling dominan.
 
"Pertumbuhan ekonomi itu seperti membangun gedung pencakar langit. Angkanya terlihat megah dan tinggi, tapi belum tentu lantai dasarnya kuat atau semua orang bisa masuk dan menikmatinya. Ada kemungkinan pertumbuhan terjadi, tapi hanya dinikmati oleh kelompok tertentu," jelas seorang pengamat.
 
Karena itulah, angka 9,39 persen tersebut memunculkan tanda tanya besar: Sektor mana yang sebenarnya tumbuh? Apakah sektor yang menjadi sumber penghidupan mayoritas masyarakat Soppeng?

Masyarakat dan berbagai kalangan kini mendesak pemerintah daerah untuk tidak hanya berhenti pada pencapaian statistik semata.
 
Diperlukan penjelasan yang terbuka dan komprehensif mengenai sumber pertumbuhan tersebut. Publik berhak mengetahui sektor apa saja yang menjadi penyumbang utama, dan bagaimana mekanisme distribusi manfaatnya hingga ke tingkat bawah.
 
Transparansi data menjadi kebutuhan yang mendesak agar masyarakat tidak terus menerus merasa asing dengan capaian yang dipublikasikan. Penjelasan ini penting untuk menjawab keraguan mengapa angka pertumbuhan tinggi belum sepenuhnya tercermin pada membaiknya pendapatan dan kuatnya daya beli.
 
Selain itu, perhatian terhadap pasar rakyat harus menjadi prioritas utama. Pasar tradisional adalah barometer yang paling nyata. Ketika transaksi di sana melemah, itu adalah sinyal kuat bahwa pertumbuhan ekonomi belum menyentuh sisi kemanusiaan dan belum merata.

Pada akhirnya, masyarakat berpesan bahwa ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi tidak boleh hanya diukur dari indah atau besarnya angka yang tercatat dalam laporan.
 
Pertumbuhan ekonomi yang sesungguhnya adalah ketika angka tersebut mampu mengubah nasib rakyat:
✅ Petani mendapatkan harga yang layak.
✅ Pedagang pasar merasakan omzet yang meningkat.
✅ Lapangan kerja terbuka lebar.
✅ Daya beli masyarakat benar-benar menguat.
 
Masyarakat berharap pemerintah hadir tidak hanya untuk menyampaikan capaian statistik, tetapi lebih untuk memastikan bahwa manfaat pembangunan benar-benar dirasakan oleh petani, nelayan, pedagang kecil, UMKM, dan rakyat berpenghasilan rendah.
 
Sebab, ekonomi daerah dikatakan sehat dan berhasil bukan ketika angkanya tinggi di atas kertas, melainkan ketika pasar-pasar rakyat kembali bergairah dan kehidupan ekonomi rakyat membaik secara nyata.
 
@Red
Komentar

Tampilkan

  • Pertumbuhan ekonomi 9,39persen di pertanyakanNilai Jual di Pasar Rakyat Justru Menurun: Angka Indah di Atas Kertas, Realita Pahit di Lapangan
  • 0

Terkini

Iklan