Iklan

Di balik statistik ekonomi positif, petani masih bergulat dengan persoalan lama

Minggu, 14 Juni 2026, Juni 14, 2026 WIB Last Updated 2026-06-14T16:58:21Z
soppeng-Tintamerah.my.id — angka pertumbuhan ekonomi kerap dijadikan barometer utama untuk menggambarkan keberhasilan pembangunan suatu daerah. setiap kali data resmi dirilis, publik disuguhi deretan capaian yang menunjukkan adanya peningkatan investasi, ekspansi bisnis, hingga pembangunan infrastruktur yang diyakini mampu mendorong kesejahteraan masyarakat secara luas.
 
namun, di balik gemerlap angka dan optimisme yang terbangun di atas kertas tersebut, suara-suara dari akar rumput justru memunculkan tanda tanya besar. sejauh mana pertumbuhan ekonomi yang digembar-gemborkan itu benar-benar terasa manfaatnya oleh masyarakat, khususnya para petani yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian desa?
 
bagi sebagian besar petani, persoalan yang mereka hadapi dari tahun ke tahun seolah tidak berubah. keluhan klasik mulai dari sulitnya memperoleh pupuk bersubsidi, biaya produksi yang terus merangkak naik, harga jual hasil panen yang fluktuatif dan sering kali tidak menguntungkan, hingga keterbatasan akses terhadap sarana pendukung pertanian, masih menjadi topik hangat yang tak kunjung usai.
 
kami sering mendengar berita bahwa ekonomi meningkat dan pembangunan maju. tapi kalau dilihat di lapangan, kondisi kami masih saja sama. saat musim tanam tiba, pupuk bersubsidi justru sering sulit didapat. kalau pun ada, kadang kami harus menunggu lama atau harus mencarinya ke tempat lain yang jauh," ujar seorang petani yang meminta identitasnya dirahasiakan, dengan nada kecewa.
 
pupuk bukan sekadar barang dagangan
 
keluhan tersebut bukan sekadar soal ketersediaan barang semata. bagi petani, pupuk adalah nyawa produksi yang menentukan volume panen dan besaran pendapatan keluarga. ketika akses terhadap pupuk terhambat atau harganya membebani, maka biaya produksi otomatis membengkak, sementara produktivitas justru berisiko turun drastis.
 
di sisi lain, realitas di pasar rakyat juga memberikan gambaran yang kontras dengan narasi pertumbuhan ekonomi. sejumlah pedagang mengaku belum merasakan adanya peningkatan signifikan dalam transaksi jual beli. daya beli masyarakat dinilai masih cenderung stagnan atau bahkan melemah.
 
kalau ekonomi benar-benar bagus dan pendapatan orang naik, pasti pasar akan terlihat ramai dan uang beredar cepat. tapi kondisi sekarang belum sepenuhnya seperti itu. transaksi masih biasa-biasa saja," kata pedagang di pasar tradisional.
 
pasar rakyat selama ini dikenal sebagai indikator paling jujur dan sederhana untuk membaca denyut nadi ekonomi masyarakat. ketika pasar ramai, itu tandanya ada aliran uang yang sehat hingga ke lapisan bawah. sebaliknya, jika pasar terasa sepi dan lesu, itu sering kali menjadi cerminan bahwa daya beli masyarakat sedang berada di bawah tekanan.

fenomena pertumbuhan yang tidak dirasakan
 
kondisi inilah yang memunculkan pertanyaan mendasar dan ironis: mengapa di satu sisi statistik ekonomi menunjukkan tren yang positif dan membanggakan, namun di sisi lain sebagian besar rakyat kecil masih merasakan beban ekonomi yang sama beratnya?
 
para pengamat ekonomi menilai bahwa fenomena tersebut bisa terjadi ketika pertumbuhan ekonomi belum bersifat inklusif atau belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
 
pertumbuhan memang bisa terjadi karena adanya peningkatan investasi besar, pembangunan fisik, atau kemajuan di sektor-sektor tertentu. namun, manfaatnya belum tentu langsung menetes dan dirasakan oleh kelompok masyarakat yang menggantungkan hidupnya di sektor pertanian dan usaha mikro, kecil, dan menengah (umkm).
 
menurut mereka, ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi tidak boleh hanya terpaku pada besarnya angka persentase yang tercatat dalam laporan resmi. yang jauh lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan tersebut mampu menciptakan lapangan kerja nyata, meningkatkan pendapatan per kapita, memperkuat daya beli, serta mempermudah akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar dan sarana produksi.
 
indikator kesejahteraan yang sesungguhnya
 
dalam konteks daerah yang basis ekonominya bertumpu pada pertanian seperti soppeng, keberhasilan pembangunan semestinya juga tercermin dari membaiknya nasib para petani.
 
kemudahan mendapatkan pupuk bersubsidi tepat waktu dan harga yang pas, meningkatnya produktivitas lahan, stabilnya harga jual gabah atau komoditas lain, hingga bertambahnya tabungan petani, adalah indikator kesejahteraan yang jauh lebih nyata dan terasa daripada sekadar angka pertumbuhan ekonomi.
 
sejumlah kalangan menilai bahwa pemerintah perlu lebih serius dan fokus untuk menjembatani kesenjangan ini. pengawasan yang ketat terhadap distribusi pupuk bersubsidi, perlindungan harga bagi petani, penguatan peran pasar rakyat, serta dukungan nyata bagi pelaku usaha kecil dinilai menjadi kunci agar manfaat pembangunan benar-benar bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.
 
masyarakat tentu tidak menolak kemajuan atau pertumbuhan ekonomi. justru sebaliknya, mereka berharap pertumbuhan tersebut membawa perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
 
bagi petani, kesejahteraan tidak diukur dari grafik yang naik di layar presentasi, melainkan dari kemampuan mereka menyekolahkan anak, memenuhi kebutuhan keluarga dengan layak, mendapatkan pupuk dengan mudah, dan menjual hasil panen dengan harga yang pantas.
  
suara rakyat adalah evaluasi pembangunan
 
karena itulah, suara-suara yang muncul dari sawah, ladang, dan pasar, seharusnya tidak dipandang sebagai gangguan atau kritik negatif semata, melainkan sebagai bahan evaluasi yang sangat berharga. hal ini untuk memastikan bahwa arah kebijakan pembangunan tidak melenceng dari tujuan utamanya, yaitu menciptakan kesejahteraan yang merata.
 
pada akhirnya, keberhasilan ekonomi yang sesungguhnya tidak dibuktikan dengan seberapa tinggi angkanya di atas kertas, melainkan dengan seberapa senyum masyarakat yang merasakannya.
 
ketika petani tidak lagi mengeluh soal pupuk, ketika pasar kembali ramai dan hidup, serta ketika rakyat kecil merasa terbantu, barulah pertumbuhan ekonomi itu bisa disebut berhasil. jika tidak, maka pertanyaan mengenai siapa yang sesungguhnya menikmati kemajuan tersebut akan terus bergema dan menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai.
 
@Red
Komentar

Tampilkan

  • Di balik statistik ekonomi positif, petani masih bergulat dengan persoalan lama
  • 0

Terkini

Iklan